Sabtu, 23 Januari 2010

Pembinaan Keluarga Muslim

اَ ْلأُسْرَةُ اْلإِسْلآمِيَةُ
Pembinaan keluarga Muslim.

Artinya:” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai ALLAH terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. At Tahrim (66) : 6

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ وَإِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ(14)إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيْمٌ(15) .التغابن (64) : 14 - 15
Artinya :” Wahai orang orang yang beriman, sesungguh-nya sebagian dari isteri isteri / suami kalian dan anak anak kalian adalah musuh bagi kalian. Maka berhati-hati-lah kepada mereka. Namun kalau sekiranya kalian memaaf-kan dan berlapang dada serta mengampuni kesalahan mereka, maka sesungguh-nya ALLAH Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Hanya sanya harta kalian dan anak kalian adalah cobaan buat kalian. Dan ALLAH disisi-Nya ganjaran yang besar.” At Taghabun (64) : 14 – 15.

Jadi didalam pembinaan keluarga ini ALLAH SWT mengajarkan bahwa kadang kala kesungguhan kita didalam melaksanakan ajaran Islam dihambat oleh orang yang paling dekat dan paling kita cintai, yakni isteri kita sendiri atau kalau dia wanita, maka suaminya-lah yang menjegalnya.

Dan ada pula gangguan lainnya ialah anak anak dan harta kita. Bahkan anak dan harta ini dianggap seluruhnya, karena kalau pada ayat 14 diatas, dikatakan sebagian dari isteri / suami kalian dan anak-anak kalian, Maka pada ayat 15, tidak ada pengecualian. Berarti semua anak anak atau harta adalah ujian bagi kita.

Kisah Zainab binti Jahasy
Jangan mengharamkan yang ALLAH halalkan

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِيْ مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ
وَاللَّهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ(1)
Artinya:” Wahai Nabi, mengapa engkau mengaharam-kan apa apa yang telah ALLAH halalkan buat kamu sekedar untuk menyenang-kan hati isteri-isterimu. Dan ALLAH Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. At Tahrim (66) : 1

Ayat ini turun, karena pada suatu hari Rasul ALLAH saw minum maghafir dirumah isteri Beliau, yakni Zainab binti Jahasy. Maghafir ini menimbul-kan wangi mulut kita bagi siapa saja yang meminum-nya. Karena minum maghafir ini, mulut Rasul ALLAH saw tercium bau wangi oleh isterinya yang lain.

Aisyah ra bertanya:” Mulutmu wangi ya Rasul ALLAH. Dengan polos Rasul saw menjawab :” Aku minum maghafir dirumah Zainab binti Jahasy.” Mendengar itu Aisyah ra merasa cemburu.

Ketika Rasul ALLAH saw berkunjung kerumah Hafsyah ra, isteri beliau, pertanyaan yang sama terlontar dari mulut Hafsyah ra. Rasul saw pun menjawab dengan jawaban yang sama. Berulang kali terjadi hal seperti itu. Akhirnya Hafsyah ra dan Aisyah ra sepakat untuk mencegah kebiasaan Rasul ALLAH saw itu.

Mula mula suatu hari Beliau ditanya oleh Aisyah ra :” Hari ini mulutmu berbau ya Rasul ALLAH. Engkau memakan urfuth? (urfuth semacam petai). “ Tidak,” kata Rasul Saw dengan nada terkejut. Heran Dia beberapa hari yang lalu Aisyah masih mengatakan harum mulutnya..”

Ketika Rasul ALLAH Saw tiba dirumah Hafsyah ra, Rasul Saw mendapatkan pertanyaan yang sama. Rasul Saw menjawab dengan perkataan yang sama.” Melihat gejala itu, maka Rasul ALLAH Saw mengatakan :

“ Mulai hari ini aku haramkan meminum maghafir dirumah Zainab binti Jahasy.”

Maka turunlah ayat tadi diatas (At Tahrim 66:1) yang menegur Rasul ALLAH saw. Rasul ALLAH saw telah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh ALLAH SWT kepadanya, sekedar untuk menyenangkan kedua hati isterinya; Aisyah ra dan Hafsyah ra. Maka ayat berikut dibawah ini menjelaskan kepada Rasul ALLAH saw, agar Rasul ALLAH saw menarik kembali omongannya, namun Beliau disuruh membayar kafarat.

Membayar kaffarat sumpah
adalah Wajib

قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلاَكُمْ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ(2)
Artinya: “ Benar benar ALLAH telah mewajibkan kalian untuk menebus sumpah sumpah kalian. Dan ALLAH adalah Pelindung kalian. Dan Dia Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”. At Tahrim (66) : 2

Adapun kaffarat sumpah seseorang yang telah bersumpah kemudian menarik lagi sumpahnya diwajibkan oleh ALLAH SWT untuk membayar kaffarat sebagaimana Ayat dibawah ini.

Kaffarat Sumpah

لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِيْ أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِيْنَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ أَهْلِيْكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَ ثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوْا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ المائدة (5) : 89
Artinya:” ALLAH tidak menyalah-kan kalian atas sumpah sumpah kalian yang tidak disengaja; tetapi Dia menyalah-kan kalian dengan sumpah sumpah yang kalian lakukan dengan sengaja. Maka kafaratnya itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, dengan makanan yang sesuai dengan makanan yang engkau berikan kepada keluargamu. Atau memberi pakaian untuk mereka. Atau membebas-kan budak. Maka barang siapa yang tidak dapat melakukan-nya, hendaklah dia berpuasa tiga hari. Yang demikian itu ialah kafarat dari sumpah kalian jika kalian melanggar-nya. Dan peliharalah sumpah sumpah kalian. Demikianlah ALLAH menjelaskan kepada kalian ayat-ayat-Nya agar kalian bersyukur”. Al Maidah (5) : 89

Setelah Rasul ALLAH saw mengucapkan pengharaman akan meminum maghafir dirumah Zainab tadi, ALLAH SWT menegur beliau dengan surat AT Tahrim (66) : ayat 1 s/d. 5.

ALLAH SWT memberitahu Rasul saw
Rahasia isteri isterinya

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيْثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا
قَالَ نَبَّأَنِي الْعَلِيْمُ الْخَبِيْرُ.
Artinya:” Dan ketika Nabi membisikkan berita itu kepada sebagian dari isteri isterinya, tatkala Nabi beritakan berita itu kepada salah seorang isterinya (Aisyah) yang ALLAH terangkan kepada Beliau (Nabi), dan Nabi menceritera-kan sebagiannya dan sebagiannya lagi tidak diceritera-kan kepada isterinya (hanya anak-anak dan orang bodoh yang mengatakan sebenarnya itu / children and fools speak the truth), maka ketika beliau menerangkan kepada salah seorang isterinya, isterinya itu bertanya kepadanya:” Siapa yang menceritera-kan hal itu kepada engkau !?” Nabi menjawab :” Yang telah menceritera-kan itu ialah ALLAH Yang Maha Mengetahui yang tiada tersembunyi segala sesuatu daripada-Nya.” At Tahrim (66) : 3

ALLAH Maha Menolong
Orang Beriman.

إِنْ تَتُوْبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوْبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلاَهُ وَجِبْرِيْلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمَلاَ ئِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيْرٌ(4).التحريم(66):4
Artinya:” Kalau kalian berdua (Aisyah dan Hafsah) bertaubat, berarti hatimu berdua benar benar telah condong kepada kebaikan. Dan jika kalian berdua menyakit-kan hatinya (hati Nabi), maka sesungguhnya ALLAH itu adalah Pelindungnya dan juga Malaikat Jibril dan orang orang beriman yang sholih serta para Malaikat akan menjadi penolongnya.” At Tahrim (66):4

Isteri Ideal

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ
تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا .التحريم (66) : 5
Artinya:” Semoga ALLAH Tuhannya (Tuhan Nabi) sekiranya Nabi menceraikan isteri isterinya, Dia ALLAH akan menggantikan-nya dengan isteri isteri yang lebih baik dari kalian. Yakni :” Wanita wanita yang berserah diri, yang penuh keimanan, yang penuh ketaatan, wanita wanita yang tobat, yang ibadat-nya kuat, yang gembira sekalipun dalam melakukan tugas yang berat, Baik janda maupun gadis.” At Tahrim (66) : 5

Setelah turun kelima ayat tersebut, dan menyadari kesalahan-nya, maka Aisyah ra dan Hafsyah ra bertobat kepada ALLAH SWT dan meminta maaf kepada Rasul ALLAH saw. Dan Rasul saw pun memaafkan keduanya.

Dari peristiwa itu kita dapat mengambil pelajaran, bahwa kadang kala kita mendapatkan halangan dari keluarga sendiri. Karena itu ALLAH SWT menyuruh kita untuk memelihara diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Dengan demikian, pembinaan Agama itu jangan hanya kita saja, tetapi juga para isteri dan anak anak kita pun harus diikut sertakan. Ini dapat kita baca pada surah At Tahrim (66) : 6

Pelihara dirimu dan keluargamu.

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قُوْا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلاَ ئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُوْنَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ(6) التحريم (66) : 6
Artinya:” Wahai orang orang yang beriman, peliharalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya saja dari manusia dan batu. Pada neraka itu ada Malaikat yang kaku dan kasar. Mereka tidak pernah durhaka kepada ALLAH; Dan apa-apa yang ALLAH perintahkan kepada mereka; dan mereka melaksanakan apa saja yang diperintahkan kepada mereka.” At Tahrim (66) : 6.

Karena itu kekeluargaan dibentuk menuju keluarga sakinah, sesuai dengan surah Ar Rum (30) : 21 yang berbunyi :

keluarga sakinah.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ(21) .الروم (30) : 21
Artinya:” Dan salah satu kebesaran ALLAH ialah bahwa dijadikan-nya bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian (bukan dari golongan jin atau Malaikat). Tujuan dari pasangan tadi agar kalian hidup didalam keharmonisan. Dan dijadikan-nya diantara kalian mawaddah (kasih sayang dengan kegairahan biologis) dan rahmah (kasih sayang semata apabila kehidupan sudah senja). Yang demikian itu adalah suatu pertanda kebesaran ALLAH bagi kaum yang mau berfikir.” Ar Rum (30) : 21
Jadi tujuannya ialah untuk hidup didalam keharmonisan. To live in a harmonious life, dan adanya kegairahan biologis serta apabila sudah senja ada rasa kasih sayang antara nenek- nenek dan kakek-kakek.

Kita ingat ceritera Maemunah ra isteri Rasul ALLAH saw yang ingin dikubur di Syarief, 12 km. dari Makkah, karena Beliau masih terkenang tatkala pertama kali Beliau hidup berumah tangga disana, di Syarief dengan Rasul ALLAH saw.

Kemudian kitapun harus menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Fungsi seorang laki-laki dirumah tangga ialah sebagai pemimpin.

Laki Laki pemimpin wanita.

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوْا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاَّتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا(34) .النسآء (4) : 34
Artinya:” Laki laki itu adalah pemimpin bagi wanita, disebabkan ALLAH memuliakan sebagian mereka atas bagian lainnya. Dan karena yang mereka infaqkan dari harta mereka. Maka wanita yang baik ialah mereka yang patuh kepada suami, dan memelihara harta dan kehormatan suaminya pada saat suaminya tidak ada. Dan bagi mereka yang takut isterinya nusyuz (melakukan pelanggaran syari’at), maka nasihati-lah mereka. dan tinggalkanlah mereka ditempat tidur mereka. Dan pukul-lah mereka. Maka sekiranya mereka taat kepadamu maka janganlah kalian mencari cari kesalahan mereka. Sesungguh-nya ALLAH itu Maha Tinggi dan Maha Besar.” An Nisa (4) : 34.

Tidak ada Emansipasi

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّيْ وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ و َلَيْسَ
الذَّكَرُ كَا ْلاُنْثَى وَإِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّيْ أُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . آل عمران (3) : 36
Artinya: “ Maka ketika ibunya Maryam melahirkan Maryam, Si-ibu berkata:” Wahai Robbi, ALLAH Tuhanku, sesungguh-nya aku telah melahirkan perempuan. Dan ALLAH Maha Mengetahui atas apa yang aku kandung. Dan tidaklah sama laki laki itu dengan perempuan. Dan aku memberinya nama :” Maryam ”. Dan sesungguh-nya aku berlindung diri kepada ALLAH untuk anak-ku ini, dan keturunan-nya dari syaithan yang dikutuk.” Ali Imran (3) : 36.

Aliran Feminisme, yang istilah orang Barat yang tersesat, ialah membela hak kaum wanita. Hak yang menyatakan bahwa laki-laki adalah sama dengan wanita.

Kalau laki-laki bisa meminum-minuman keras, kamipun kaum wanita dapat berbuat yang sama. Kalau kaum laki laki bisa bertinju atau bergulat, maka kamipun dapat melakukan-nya. Dan mereka ingin bebas dari ”cengkeraman” laki laki. Maka ALLAH SWT menyatakan bahwa:

” Tidak sama laki laki dengan wanita.” Mereka ingin menyamakan laki-laki dengan wanita. Maka kalau laki-laki bisa bertindak semaunya, kamipun dapat berbuat itu. Maka terjadilah juga Lesbianisme dan Freesex. Apakah perlu bagi laki-laki mengadakan masculanisme, untuk membela hak kaum laki laki yang telah direbut oleh kaum perempuan ? Misalnya saat ini dimana lapangan kerja laki-laki diborong oleh perempuan.
Who’s perfect ? None / Siapa Sempurna ?

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلاَ تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوْهُنَّ إِلاَّ أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا(19)
النسآء (4) : 19
Artinya:” Wahai orang orang yang beriman tidak dibenarkan kalian mewarisi wanita dengan paksa. Dan janganlah kalian menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali apa apa yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan pergaulilah mereka dengan ma’ruf. Dan sekiranya kalian membenci mereka karena mendapatkan kekurangan padanya, maka semoga ALLAH menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” An Nisa (4) : 19.

Untuk membina keluarga sakinah, setiap individu, baik dia si-isteri ataupun si-suami, janganlah menggunakan “Kaca mata gelap.” sehingga selalu melihat segi negative dari pasangan-nya.
Dan Masing-masing harus menyadari bahwa yang dinikahi-nya adalah seorang manusia dengan serba kekurangan-nya.

Isterinya memang mempunyai kekurangan, tetapi ada kelebihan isteri-nya, yang isteri orang lain tidak mempunyai-nya. Kalau setiap suami ber-pandangan demikian, Insya ALLAH, hidup menjadi tenang.

Begitu juga si-isteri. Dia akan melihat kekurangan suami-nya, tetapi dia juga harus menyadari, bahwa memang suami-nya mempunyai kekurangan, tetapi ada kelebihan suami-nya yang suami orang lain tidak memiliki-nya. Kalau kedua suami isteri ber-pandangan positive, seperti itu, Insya ALLAH akan terbentuk keluarga sakinah.
Karena itu yang paling pantang atau tabu didalam urusan berumah tangga ialah membanding-banding. Comparisons are odious = Membanding-banding itu sangat menjengkelkan.

--- Apakah ---------membanding kelakuan suami atau isteri dengan pasangan yang lainnya, ataupun membanding-banding antara penghasilan suami dengan penghasilan yang lainnya. Apalagi membanding rupa suami dengan yang lainnya.

Keluarga yang baik bukan-lah keluarga yang saling berhadapan untuk melihat kejelekan yang lain-nya, melainkan keluarga yang keduanya menghadap kesatu arah cita-cita sambil bergandengan tangan. Saling tolong menolong, saling bantu membantu, saling mengerti, dan saling mengisi kekurangan masing-masing, dan Ingat pula bahwa :” Setiap yang permulaan adalah susah”.

Kesamaan Haq perbedaan Kewajiban.

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّيْ لاَ أُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى
بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَأُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقَاتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ(195)لاَ يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِي الْبِلاَدِ(196)مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
(197) آل عمران (3) : 195 - 197
Artinya:” Maka ALLAH Tuhan mereka mengabul-kan permohonan mereka. “ Sesungguh-nya Aku tidak menyia- nyiakan amalan yang mereka kerjakan dari mereka biar laki laki ataupun perempuan, sama saja, sebagian dengan sebaagian lainnya.

Maka bagi siapa yang berhijrah dan diusir dari tempat tinggalnya, dan disakiti dijalan ALLAH dan mereka yang membunuh dan mereka yang dibunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan kesalahan mereka, dan Aku masuk-kan kedalam surga-surga yang mengalir dibawah-nya sungai-sungai. Sebagai ganjaran dari sisi ALLAH. Dan ALLAH itu disisi-Nya sebaik baik ganjaran.

Dan janganlah kamu terpukau akan kebebasan orang orang kafir dinegeri-negeri mereka. Suatu kesenangan yang sedikit, untuk kemudian tempat mereka diapi Neraka, suatu tempat yang seburuk buruknya.” Ali Imran (3) : 195 - 197

Secara biologis dan psychologis, manusia laki-laki dan wanita itu berbeda. Kita boleh saja tidak mengakui-nya, tetapi dalam kehidupan sehari hari akan kita lihat. Wanita dengan 9 perasaan-nya dan dengan 1 akal-nya, sedangkan laki-laki dengan 9 akal-nya dan dengan 1 perasaan-nya.

Maka per-sengketaan dirumah tangga akan kita lihat salah satunya berkisar antara wanita yang menekan-kan kepada emosi-nya, sedangkan laki laki menekan-kan kepada rasio-nya. Karena itu untuk membentuk keluarga sakinah, setiap orang harus dapat menempat-kan dirinya pada posisi lawan jenisnya masing-masing.

“If I were in his boots !” Begitu kata si-isteri : “Kalau aku pada posisi suami-ku yang selalu mengutama-kan akal-nya.”

Sedangkan si-suami juga akan berkata :” If I were in her boots.” “Kalau aku dalam keadaan seperti isteri-ku yang selalu mengutama-kan perasaan-nya!”

Insya ALLAH kalau kedua-nya dapat merasa-kan seperti itu, maka keluarga sakinah dapat dibina dengan mudah. Yang susah adalah kalau masing masing berkeras kepala membenar-kan pendapat-nya sendiri sendiri.

Kemudian selain daripada itu keluarga modern biasanya menjadi Gesellshaft atau Patembayan. Hidup menjadi egoist atau selfish. Bukan cuma dengan tetangga saja bersikap masing masing, bahkan terhadap kedua ibu bapaknya-pun bersikap masing masing, Didalam kehidupan modern ini hidup yang Gemeinshaft, atau Paguyuban sudah menjadi langka. Kalau keadaan seperti ini didiam-kan terus, maka akan terjadi seperti di Barat dimana seakan-akan tidak lagi terjadi ikatan yang manis antara satu keluarga dengan keluarga yang lain-nya.

Ikatan sudah dinilai dengan uang. Bahkan hubungan dengan orang tua sendiri seakan akan terputus. Kalau sudah demikian, maka ke-berkahan dirumah tangga akan sirna, karena tidak lagi mendapat keridhoan ALLAH SWT. Padahal ke-Ridhoan ALLAH SWT itu berjalin-berkelindan dengan keridhoan orang tua.

Sikap dan tindak terhadap Orang Tua.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوْا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا
Artinya :” Dan ALLAH Tuhan kamu telah memerintah-kan agar engkau tidak menyembah kepada selain Dia. Dan kepada kedua orang tuamu berbuat baik-lah. Jika salah seorang dari pada mereka itu, atau kedua-nya tiba pada umur senja dan mereka didalam pemeliharaan-mu, janganlah kamu berkata kepada kedua-nya:” Ah !” Dan janganlah kamu menyentak kedua-nya, dan katakan-lah kepada kedua-nya dengan mengguna-kan kalimat yang mulia.” Al Isro (17) : 23 – 33

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ اِرْحَمْهُمَا
كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا(24)
Artinya: “Dan rendahkan-lah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan berdo’a-lah kamu :” Wahai ALLAH Tuhan-ku, kasihani-lah mereka dan pelihara-lah mereka berdua, sebagaimana mereka telah memelihara daku tatkala aku masih kecil.”

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِيْ نُفُوْسِكُمْ إِنْ تَكُوْنُوْا صَالِحِيْنَ
فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِيْنَ غَفُوْرًا(25)
Artinya: “ALLAH Tuhan kalian Maha Mengatahui apa apa yang tersembunyi dalam hati kalian. Jika kalian adalah orang-orang yang sholih, maka sesungguh-nya ALLAH itu Maha Penerima taubat dan Maha Pengampun.”

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا(26)
Artinya: " Dan berilah kepada yang hampir akan Hak-nya, dan juga kepada orang-orang miskin dan kepada mereka yang berjuang dijalan ALLAH. Dan jangan-lah kamu bertindak boros keterlaluan."

إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا(27)
Artinya:" Sesungguh-nya orang orang yang bertindak boros itu adalah saudara-nya syaithan. Dan adalah syaithan itu bersifat tidak berterima kasih kepada ALLAH Tuhannya."

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمْ اِبْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوْهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلاً مَيْسُوْرًا(28
Artinya:" Dan jika engkau berpaling daripada mereka karena ingin mencari kasih sayang dari ALLAH Tuhan-mu yang kamu mengharapkan-nya, maka berkata-lah kepada mereka dengan kalimat yang pantas.”

Artinya: "Dan janganlah kamu menjadikan tanganmu terbelenggu ditengkuk-mu (jangan bakhil) dan jangan pula engkau bentangkan tanganmu itu selebar lebarnya (jangan boros), sebab nanti kamu akan berada didalam kehidupan yang tercela dan penuh penyesalan."(29)

Artinya: "Sesungguh-nya ALLAH Tuhan kamu meluaskan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia juga menyempitkan-nya, Sesungguh-nya Dia ALLAH itu Maha waspada akan hamba-hamba-Nya dan Maha Mengetahui."(30)

Artinya: " Dan janganlah kalian membunuh anak anak kalian karena takut akan kepapaan, kemiskinan. Kamilah yang akan memberi-kan rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian. Sesungguh-nya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar."(31)

Artinya: " Dan janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu adalah suatu kejahatan. Dan merupakan perjalanan hidup yang jelek."(32)

" Dan jangan-lah kalian membunuh seseorang yang ALLAH telah mengharamkan-nya, kecuali dengan jalan Haq (berdasar Hukum yang ALLAH tentukan).

Dan barang siapa dibunuh dengan kezhaliman, maka Kami menjadi-kan ahli warisnya yang berkuasa (diberi kuasa untuk menuntut balas atau untuk menuntut denda). Namun jangan-lah walinya itu berlebihan didalam membunuh-nya, karena dia merupakan orang yang ditolong.” Al Isra’ (17) : 23 – 33.

Nasihat Luqman kepada anaknya.

Artinya:” Dan sesungguh-nya Kami telah memberi-kan ke-bijaksanaan kepada Luqman, yakni agar bersyukur kepada ALLAH, karena barang siapa yang bersyukur, maka syukurnya itu akan berguna bagi dirinya sendiri. Sedangkan barang siapa yang kufur, maka sesungguh-nya ALLAH itu Maha Kaya dan Maha Terpuji.”

“ Dan ingatlah tatkala Luqman sedang menasihati anaknya:” Wahai anakku, janganlah kamu menyekutu-kan ALLAH ! Sesungguh-nya syirik itu adalah suatu kezhaliman yang besar.” Lukman (31) : 12

Artinya: “ Dan Kami telah mewasiyat-kan manusia untuk taat kepada kedua ibu bapak-nya. ibunya telah mengandung-nya dalam keadaan yang lemah bertambah lemah. Sedang pemutusan penyusuan-nya adalah dalam dua tahun. Dan Kami memerintah-kan :” Hendaklah kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Dan kepada-Ku lah tempat kembalimu.”

“ Dan jika keduanya menyuruh kamu dengan sungguh sungguh untuk menyekutu-kan Daku, sesuatu yang tidak berdasar, maka janganlah kamu mentaati keduanya, namun per-gaulilah keduanya dalam masalah dunia dengan pergaulan yang baik. Dan ikutilah mereka yang kembali kepada-Ku. Kemudian kepada-Ku lah tempat kamu kembali. Dan Aku akan menerang-kan kepadamu akan apa apa yang telah kalian perbuat.” Lukman (31) : 14-15

Artinya: “ Wahai anakku, sekalipun amal kamu seberat biji sawi, sekalipun berada tersembunyi didalam batu gunung yang besar, ataupun dilangit, ataupun juga didalam bumi sekalipun, ALLAH akan menunjuk-kan dia, karena ALLAH itu Maha Halus dan Maha Mengetahui.”

“Wahai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah manusia untuk berbuat ma’ruf dan laranglah mereka berbuat kemungkaran. Dan bershabar-lah kamu atas mushibah yang menimpa-mu, karena hal itu merupakan urusan yang penting yang memerlu-kan keteguhan hati.” Luqman (31) : 16-17

وَءَا خِرُ دَعْوَا نَا اَنِ الْحَمْدُ ِلله ِرَبِّ الْعَا لَمِيْنَ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar